Senin, 26 Januari 2015

Raja Arab Saudi Mangkat

Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud
Raja Arab Saudi ke-6
Ina lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah kembali ke Rahmatullah, Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi ke-6 pada 23 Januari 2015 Masehi bersamaan dengan 3 Rabiulakhir 1436 Hijriah. Baginda wafat dalam usia 90 tahun setelah selama 21 hari dirawat karena sakit pnemonia. Sesuai dengan tradisi Islam di Arab Saudi, pada hari yang sama, jenazah Raja Abdullah disalatkan di Masjid Agung Imam Turki bin Abdullah dan kemudian dimakamkan secara sederhana di Pemakaman Umum Al-Oud di Riyadh.

Wafatnya Raja Abdullah mengundang perhatian dunia internasional. Bahrain, India, Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Yordania mengumumkan hari berkabung nasional. Di Inggris, bendera berkibar setengah tiang di Istana Buckingham dan di Gereja Westminster Abbey. Dari Indonesia, Wakil Presiden Indonesia Drs. H. M. Jusuf Kalla membatalkan kunjungannya ke Sulawesi Selatan dan segera terbang ke Riyadh bersama Menteri Agama Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin untuk menyampaikan bela sungkawa.

Abdullah bin Abdul Aziz lahir pada 1 Agustus 1924 Masehi bersamaan dengan 29 Zulhijah 1342 Hijriah. Ia merupakan putra dari Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Saud, raja pertama Arab Saudi dari istrinya yang bernama Fahda binti Asi al-Suraim. Kariernya dimulai pada tahun 1961 ketika diangkat sebagai Walikota Mekkah. Pada tahun 1963, Abdullah diangkat menjadi Panglima Garda Nasional Arab Saudi, salah satu angkatan ketentaraan di Arab Saudi. Pada Maret 1975, Abdullah diangkat sebagai Deputi Perdana Menteri. Pada Juni 1982, setelah Raja Fahd bin Abdul Aziz naik takhta, Abdullah menjadi putra mahkota. Sejak tahun 1995, setelah Raja Fahd terserang struk, Abdullah selaku putra mahkota banyak menjalankan tugas administrasi negara mewakili Raja Fahd.

Raja Abdullah naik takhta selepas kemangkatan Raja Fahd bin Abdul Aziz, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-81, 1 Agustus 2005 Masehi bersamaan dengan 26 Jumadilakhir 1426 Hijriah. Di masa pemerintahannya, Raja Abdullah mempertahankan kedekatan hubungan Arab Saudi dengan Amerika Serikat dan Britania Raya. Di masa pemerintahannya pula, untuk pertama kalinya kaum perempuan memiliki hak pilih dalam pemilu serta diizinkan ikut berkompetisi dalam Olimpiade.

Di Arab Saudi, Raja Abdullah memegang rekor sebagai raja tertua yang naik takhta, sekaligus sebagai raja dengan umur terpanjang. Di masa Raja Abdullah juga, untuk pertama kalinya putra mahkota Arab Saudi wafat lebih dulu, mendahului rajanya. Pangeran Sultan bin Abdul Aziz, putra mahkota sejak Raja Abdullah naik takhta wafat pada Oktober 2011. Tidak sampai setahun kemudian, putra mahkota berikutnya, Pangeran Nayef bin Abdul Aziz wafat pada Juni 2012.


Raja Baru
Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud
Raja Arab Saudi ke-7

Sebagaimana layaknya negara monarki, di saat yang bersamaan dengan kepergian sang raja, disambut pula kedatangan raja yang baru. Dengan wafatnya Raja Abdullah, Salman bin Abdul Aziz al-Saud secara otomatis naik takhta sebagai Raja Arab Saudi yang ketujuh. Raja Salman merupakan adik seayah, namun tidak seibu dari Raja Abdullah.

Salman bin Abdul Aziz al-Saud lahir pada 31 Desember 1935 Masehi bersamaan 5 Syawal 1354 Hijriah. Ia merupakan putra dari Raja Abdul Aziz dari istrinya yang bernama Hassa binti Ahmad al-Sudairi. Salman memulai karier pemerintahannya ketika diangkat sebagai Wakil Gubernur Riyadh pada tahun 1954. Ia kemudian menjadi Gubernur Riyadh pada tahun 1955 hingga 1960. Pada tahun 1963, ia diangkat kembali sebagai Gubernur Riyadh. Pada November 2011, Salman dipercaya menduduki jabatan Menteri Pertahanan Arab Saudi. Pada Juni 2012, Salman menjadi Putra Mahkota Arab Saudi setelah wafatnya Pangeran Nayef bin Abdul Aziz. Di saat bersamaan, ia juga menduduki posisi Deputi Perdana Menteri.

Dalam titah perdananya, Raja Salman meminta agar rakyat Arab Saudi tetap bersatu dan menjaga solidaritas umat muslim sedunia. Ia juga berkomitmen akan tetap meneruskan apa yang sudah berjalan dan dicapai di Arab Saudi, serta memegang teguh Alquran dan Sunah Nabi sebagai konstitusi Arab Saudi.


Kerajaan Arab Saudi
Lambang Negara Arab Saudi

Arab Saudi merupakan satu dari sedikit negara di dunia yang masih mempertahankan sistem monarki absolut pada pemerintahannya. Raja Arab Saudi bertindak sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Keluarga al-Saud memegang hampir seluruh posisi penting di dalam pemerintahan di Arab Saudi. Bahkan perekonomian negara banyak dipegang tokoh-tokoh dari keluarga al-Saud.

Berbeda dengan negara monarki lainnya, takhta Arab Saudi tidak secara otomatis diwariskan kepada putra tertua sang Raja. Sejak wafatnya raja pertama, Raja Abdul Aziz pada tahun 1953, takhta diwariskan kepada para putra Raja Abdul Aziz berdasarkan asas senioritas. Sederhananya, sejak dari raja kedua, takhta diwariskan kepada para adiknya berdasarkan usia, bukan kepada putranya. Jadi, dari raja kedua hingga raja ketujuh yang sekarang ini, semuanya adalah abang-adik, putra dari Raja Abdul Aziz. Namun di balik layar, penentuan suksesi tidak sesederhana itu.

Raja Arab Saudi tidak memiliki hak mutlak dalam menentukan siapa yang akan menjadi putra mahkota. Terdapat lembaga bernama Hay'at al-Bay'ah (Dewan Kesetiaan) yang beranggotakan tokoh-tokoh senior di dalam keluarga al-Saud. Dewan ini yang kini berwenang menentukan siapa yang akan menjadi putra mahkota. Pemilihan putra mahkota ditentukan berdasarkan kriteria yang dibuat oleh dewan itu sendiri. Selain usia, kriteria lain yang dipertimbangkan antara lain dukungan dari dalam keluarga al-Saud, pengalaman pemerintahan, asal-usul keluarga ibunya, diterima oleh para ulama, dukungan dari para pengusaha, serta popularitasnya di mata publik Arab Saudi.

Perbedaan lain, jika raja-raja di negara lain dipanggil dengan istilah "Yang Mulia", "Baginda", "Paduka", atau istilah sejenis lainnya, Raja Arab Saudi tidak seperti itu. Sejak tahun 1986, Raja Arab Saudi mengadopsi gelar "Hadim al-Haramayn as-Sarifayn (Penjaga Dua Masjid Suci)" untuk menggantikan istilah yang dianggap mengagung-agungkan itu. Gelar itu juga diadopsi untuk mempertegas Arab Saudi sebagai penanggung jawab atas Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid al-Nabawi di Madinah. Kedua Masjid ini merupakan Masjid yang paling suci bagi umat muslim sedunia.

Selasa, 06 Januari 2015

"Kebun Raya" Pontianak

Jika mendengar kata "kebun raya", pikiran kita tentu akan tertuju pada Kota Bogor. Hal ini cukup lumrah karena Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya paling terkenal di Indonesia, bahkan menjadi salah satu tempat wisata andalan Kota Bogor. Di Kota Pontianak, tentu tidak ada kebun raya sebagaimana layaknya Kota Bogor. Namun, Kota Pontianak memiliki kawasan sejenis yang disebut arboretum. Dalam KBBI, arboretum didefinisikan sebagai "tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan". Jadi, bisa dibilang arboretum adalah sejenis kebun raya, namun dikhususkan untuk tanaman pepohonan.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 1 Januari 2015

Dalam sejarahnya, pembangunan arboretum di Kota Pontianak dicetuskan pada tahun 1987 oleh mahasiswa jurusan kehutanan di Pontianak. Tahun 1988, dilakukan pembersihan semak belukar dan pengukuran. Pembangunan resmi dimulai pada tahun 1990 dengan pembentukan panitia pelaksana. Penanaman pun dilakukan sedikit demi sedikit hingga akhirnya tampak seperti sekarang ini. Melalui Perda Kota Pontianak No. 11 Tahun 2011, Arboretum Untan akhirnya ditetapkan sebagai salah satu kawasan Hutan Kota yang secara otomatis berstatus dilindungi.

Secara resmi arboretum di Kota Pontianak bernama Arboretum Sylva Indonesia P.C. Universitas Tanjungpura. Sylva Indonesia adalah organisasi kemahasiswaan yang mewadahi mahasiswa jurusan kehutanan di seluruh Indonesia. Kata sylva sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti hutan. Manakala P.C. adalah singkatan dari Pengurus Cabang. Jadi, sesuai namanya, arboretum ini dikelola oleh mahasiswa Fakultas Kehutanan di Universitas Tanjungpura.

Penampakan Arboretum dari Jl. Jend. A. Yani (foto pada 27 Agustus 2014)

Tidak hanya istilahnya yang asing di telinga, keberadaannya pun masih asing, bahkan oleh warga Kota Pontianak sendiri. Padahal Arboretum Untan dekat dengan pusat keramaian, bahkan terlihat jelas di sisi Jl. Jend. A. Yani, salah satu jalan utama di Kota Pontianak. Karena ketidaktahuan akan keberadaannya, kebanyakan warga yang melintas mungkin hanya mengiranya sebagai lahan kosong yang belum terbangun. Secara administratif, Arboretum Untan terletak di Kel. Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara. Pintu masuknya terdapat di Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, dekat sekali dengan Bundaran Monumen Sebelas Digulis. Dengan kendaraan umum, bisa dicapai dengan menaiki oplet jurusan Sudarso – A. Yani – Kp. Bali yang bermarna dadu alias merah muda.

Foto pada 1 Januari 2015
Begitu memasuki kawasan arboretum, kesan teduh langsung terasa karena dikelilingi pohon yang menjulang tinggi, meskipun suhu udara di Kota Pontianak sangat panas. Arboretum Untan menempati lahan seluas 3,2 hektar dan memiliki koleksi lebih dari 400 spesies tanaman. Di antaranya terdapat 214 jenis pohon dan 126 jenis anggrek. Setengah dari koleksi tersebut adalah tanaman khas Kalimantan Barat. Beberapa tanaman memiliki bentuk akar atau batang yang unik sehingga menjadi objek bagi pengunjung yang suka berfoto ria. Selain tanaman, terdapat pula 32 jenis burung dan 50 jenis serangga yang hidup di dalam arboretum.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 8 Februari 2014

Sepanjang pengamatan saya, kekurangan utama di Arboretum Untan adalah kurangnya fasilitas jalan yang memungkinkan pengunjung untuk berkeliling hingga pelosok arboretum tanpa harus berbecek ria. Bagi yang suka bertualang, tentu sangat menikmati berbecek ria. Namun tidak semua pengunjung suka becek. Ada yang lebih memilih berhenti dan kembali daripada harus berbecek ria. Pengelolaan sampahnya juga kurang, serta kurang adanya label yang menerangkan jenis-jenis pohon yang ada. Namun di sisi lain, kelebihan utamanya adalah tidak dipungut biaya alias gratis ketika masuk ke kawasan arboretum. Jika beruntung, kita akan ditemani mahasiswa yang ramah dan dengan sukarela memandu kita melihat-lihat kawasan arboretum.

Foto pada 1 Januari 2015
Foto pada 1 Januari 2015
Foto pada 1 Januari 2015

Tujuan utama Arboretum Untan memang untuk pelestarian, konservasi, penelitian, dan pendidikan. Namun, menurutku, tanpa harus menyampingkan tujuan aslinya, tidak ada salahnya jika arboretum dikembangkan dan ditata sebagai kawasan wisata, terutama untuk ekowisata, wisata pendidikan, dan rekreasi. Untuk bisa dikembangkan, tidak bisa hanya mengandalkan pihak Sylva Indonesia atau Universitas Tanjungpura saja. Diperlukan pula bantuan dan kerja sama dari Pemkot Pontianak. Jikalau perlu, juga dari Pemprov Kalimantan Barat.

Foto pada 8 Februari 2014
Foto pada 1 Januari 2015

Sebagai kota yang berwawasan lingkungan, seperti visi Pemkot Pontianak sejak 1999, sudah selayaknya Kota Pontianak memiliki tempat wisata yang berbasis lingkungan alias ekowisata. Harapan saya, semoga ke depannya, Arboretum Untan dapat ditata sebagai salah satu kawasan wisata andalan bagi Kota Pontianak, tidak hanya bagi penduduk lokal, namun juga bagi warga dari luar kota, sebagaimana Kota Bogor dengan kebun rayanya.

Jumat, 26 Desember 2014

Selamat Hari Natal 2014

Baliho Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru dari Walikota dan Wakil Walikota Pontianak
Lokasi: Jl. Gajah Mada, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan
Tanggal foto: 23 Desember 2014

Hari Natal merupakan hari raya umat Kristen sedunia yang merayakan kelahiran Yesus Kristus yang oleh umat Kristen dipercaya sebagai Anak Allah, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia. Mayoritas umat Kristen sedunia merayakan Natal pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Namun bagi sebagian Kristen Ortodoks, hari Natal dirayakan di tanggal yang berbeda karena menggunakan sistem kalender lama, yaitu pada 6, 7 atau 19 Januari, tergantung Gerejanya.

Selain di Indonesia, Hari Natal juga menjadi hari libur resmi di hampir semua negara di dunia. Natal merupakan hari libur resmi di seluruh negara di Benua Amerika, Eropa, Australia, dan Oseania. Hanya 33 negara yang tidak menetapkan Natal sebagai hari libur resmi, antara lain enam negara di Afrika dan 27 negara di Asia. Sebagai catatan tambahan, tanggal 25 Desember adalah hari libur resmi di Taiwan dan Pakistan, namun bukan sebagai hari Natal. 25 Desember adalah Hari Konstitusi di Taiwan, sedangkan di Pakistan, diperingati sebagai Hari Kelahiran Muhammad Ali Jinnah, bapak pendiri Negara Pakistan.


Di Indonesia, Hari Natal untuk pertama kali ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1953 melalui Keppres No. 24 Tahun 1953. Sejak saat itu, meskipun terjadi perubahan hari-hari libur nasional, kedudukan Hari Natal sebagai hari libur tidak pernah berubah.

Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010, terdapat 23.436.386 penduduk beragama Kristen, atau setara 9,86% penduduk Indonesia. Dari 9,9% tersebut, 6,95% menganut Kristen Protestan dan 2,91% menganut Kristen Katolik. Terdapat empat provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, antara lain Nusa Tenggara Timur (88,9%), Papua (83,1%), Sulawesi Utara (68%), dan Papua Barat (60,8%). Provinsi lain yang memiliki penduduk Kristen yang cukup signifikan antara lain Maluku (48,2%), Kalimantan Barat (34,3%), Sumatera Utara (31%), Kalimantan Utara (26,4%), dan Maluku Utara (25,4%).

Logo PGI dan KWI

Di Indonesia, Hari Natal 2014 diperingati secara resmi dengan tema "Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga". Tema ini merupakan kesepakatan bersama antara Konferensi Wali Gereja Indonesai (KWI) dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Tema ini diambil dengan maksud mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan.


Untuk mengakhiri artikel ini, berikut adalah beberapa petikan Pesan Natal dari beberapa tokoh:

"Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia." (Pesan Natal Bersama PGI dan KWI, November 2014)

"Dengan peristiwa kelahiran Yesus, kita melihat betapa Allah terlibat di dalam kehidupan manusia dengan kecemasan dan keprihatinan-Nya, dengan kegembiraan dan harapan-Nya. Semoga dengan merayakan Natal, umat Kristiani terdorong untuk ikut melibatkan diri di dalam kehidupan masyarakat, dalam peran apapun yang bisa diambil menuju Indonesia yang lebih baik." (Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, 23 Desember 2014)

"Keluarga adalah komponen yang sangat pokok dan substansial dalam kehidupan bermasyarakat. Ajaran Tuhan sangat sederhana dalam umat Kristiani, yakni kasih, pengampunan, dan ada kedamaian. Kalau tiap keluarga ada kedamaian dan cinta kasih, maka akan dirasakan juga para tetangga, masyarakat, dan semua orang." (Mgr. Dr. Agustinus Agus, Pr., Uskup Agung Pontianak, 24 Desember 2014)

"Bagiku, kehidupan Yesus Kristus, Pangeran Kedamaian, yang kelahirannya kita rayakan hari ini, merupakan inspirasi dan sandaran hidup saya. Sebagai panutan atas rekonsiliasi dan pengampunan, Ia mengulurkan tangannya dengan kedamaian, dukungan, dan penyembuhan. Contoh dari Kristus telah mengajari saya untuk menghormati dan menghargai seluruh manusia, apapun kepercayaannya." (Ratu Elizabeth II, Gubernur Tertinggi Gereja Inggris, 25 Desember 2014)

"Saudara dan saudari yang kukasihi, semoga Roh Kudus, pada hari ini, mencerahkan hati kita agar kita dapat mengenali, melalui kelahiran bayi Yesus di Betlehem oleh Perawan Maria, keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita semua, kepada setiap pria dan wanita, dan kepada seluruh manusia di bumi. Semoga kekuatan Kristus yang membawa kebebasan dan pelayanan dapat dirasakan oleh hati mereka yang sedang menderita akibat peperangan, penganiayaan, dan perbudakan. Semoga kuasa Ilahi, dengan kelembutannya, membuang kekerasan hati banyak pria dan wanita yang tenggelam dalam pengaruh keduniawian dan ketidakpedulian, globalisasi ketidakpedulian. Semoga kekuatan penebusan-Nya mengubah senjata menjadi bajak, kehancuran menjadi kreativitas, kebencian menjadi kasih dan kelembutan." (Paus Fransiskus, Uskup Roma, Pemimpin Tertinggi Gereja Universal, 25 Desember 2014)