Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Mei 2017

Taman Mini "Indonesia Indah" (Bagian 3 - Museum)

Keunikan lain dari TMII adalah banyaknya museum dengan beragam tema yang tersebar di kawasan ini, dari ujung barat hingga ujung timur. Pada 11 Maret kemarin, saya hanya sempat mengunjungi tiga museum. Berikut ini foto-fotonya.


Museum Olahraga Nasional

Singkatnya, museum ini berisikan tentang olahraga yang ada di Indonesia, dari sejarah, jenis-jenis olahraga, hingga perhelatan berbagai ajang olahraga di Indonesia, termasuk prestasi Indonesia dalam ajang olahraga internasional. Ini merupakan kunjungan kedua saya ke museum ini. Dibandingkan sebelumnya, interior museum ini kini jauh lebih cantik dan lebih apik.

Bangunan Museum Olahraga Nasional yang berbentuk bola sepak.
Prasasti Peresmian Museum Olahraga oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1989.
Prasasti Peresmian Revitalisasi Museum Olahraga Nasional oleh Menpora Roy Suryo Notodiprojo pada 11 September 2014.
Ruang Pertama saat Masuk Museum. Tampak ada patung atlet lompat indah.
Ruang tentang Jenis-Jenis Olahraga.
Di Dalam Museum Olahraga Nasional.
Patung Orang Membawa Obor Api.
Koleksi Piala dan Medali yang Dimenangkan Atlet Indonesia di Ajang Olahraga Internasional.
Karcis Masuk Museum Olahraga Nasional Seharga Rp5.000.
Saya dan teman saya masing-masing mendapatkan desain karcis yang berbeda. Semoga keduanya ini sama-sama resmi, bukan dipalsukan oknum tak bertanggungjawab.


Museum Minyak dan Gas Bumi "Graha Widya Patra"

Museum yang berbentuk seperti tangki dan kilang minyak ini menampilkan sejarah penambangan minyak dan gas bumi di Indonesia beserta pemanfaatannya. Museumnya juga kini sudah ber-AC, tidak lagi seperti dulu. Sayangnya, dari tiga bangunan yang tampak dari luar, hanya satu saja yang difungsikan, sisanya ditutup dengan alasan sedang renovasi. Padahal saat berkunjung ke sini beberapa tahun yang lalu juga sama. Namun, yang paling kuapresiasi adalah ditawarin untuk menonton video tentang mintak bumi di ruang teater, meskipun kami hanya berdua. Biasanya, kalau di museum lain yang punya fasilitas teater, video hanya diputar khusus tamu rombongan, bukan perorangan. Secara umum, tarif masuk yang sudah dinaikkan cukup sebanding dengan peningkatan fasilitasnya.

Jalan Masuk Menuju Museum.
Prasasti Peresmian Museum "Graha Widya Patra" oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1989.
Ruang tentang Pemanfaatan dan Hasil Pengolahan Minyak Bumi.
Ruang tentang Sejarah Penambangan Minyak.
Ruang tentang Penambangan Minyak Bumi.
Sejarah Gagasan Pembangunan Museum.
Diorama Eksplorasi Minyak Bumi.
Karcis Masuk Museum Seharga Rp15.000.
Desain karcisnya agak unik karena bentuknya yang memanjang dan menggunakan kertas jenis art paper, Bukan HVS. 
Brosur Keterangan tentang Museum Minyak dan Gas Bumi.
Brosur Keterangan tentang Museum Minyak dan Gas Bumi.
Brosur tentang Petrokima.
Brosur tentang Petrokimia.


Museum Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta

Nama museumnya cukup panjang, kurang sebanding dengan luasnya yang sangat kecil. Namun karena gratis, tak sepantasnya pula kita masih komplain. Museum ini berisikan foto-foto sejarah pemadam kebakaran di Jakarta, serta peralatan pemadam kebakaran zaman dulu. Sayangnya, peta TMII tidak mencantumkan keberadaan museum ini, sehingga kurang dikenal orang, apalagi lokasinya agak di sudut dan tidak mencolok. Dari luar, orang awam bakal mengira ini hanya pos pemadam kebakaran, tanpa mengetahui ada museumnya. Meskipun kecil, museum ini cukup rapi dan rapat dalam meletakkan koleksinya. AC-nya juga dingin, jadi lumayan buat ngadem gratis kalau lagi kepanasan di luar, sambil menambah wawasan kita tentang pemadam kebakaran.

Pintu Masuk Museum Damkar.
Prasasti Peresmian Museum Damkar oleh Wagub DKI Jakarta Drs. H. Djarot Saiful Hidayat pada 1 Maret 2015.
Koleksi di Dalam Museum Damkar.
Koleksi Pakaian dan Motor Dinas Pemadam Kebakaran.

Sabtu, 09 Juli 2016

Museum Kalimantan Barat (2)

Selain ruang pamer tertutup, Museum Kalimantan Barat juga memiliki ruang pamer terbuka yang berlokasi di halaman belakang museum. Berbeda dengan ruang pamer tertutup, berkeliling di ruang pamer terbuka tidak dipungut biaya alias gratis serta bebas dikunjungi dari pagi hingga malam, bahkan ketika museum tutup sekalipun. 

Di ruang pamer terbuka, terdapat replika/miniatur bangunan tradisional. Selain itu, terdapat pula beberapa bangunan yang berasitektur tradisional. Jika di Jakarta terdapat Taman Mini Indonesia Indah, maka halaman belakang museum ini menurutku bisa dibilang Taman Mini versi Kalimantan Barat. Sayangnya, replika rumah tradisionalnya tidak dimanfaatkan secara maksimal. Sebagian difungsikan sebagai kantor staf museum. Sebagiannya lagi hanya difungsikan pada acara tertentu saja. Pengunjung hanya bisa menikmati replika bangunan tersebut dari luarnya saja.

Berikut ini foto-foto yang kujepret pada 3 Juli 2016:

Gedung Aula Museum, biasanya disewakan dan dijadikan tempat resepsi pernikahan.
Gedung Aula tampak dari depan. Bentuknya yang panjang seperti rumah adat Dayak. Atapnya menyerupai atap rumah adat Melayu. Di depannya tampak dua patung singa yang berasal dari budaya Cina.
Miniatur Rumah Lanting: tempat tinggal suku bangsa Melayu yang bermatapencaharian sebagai nelayan, umumnya terdapat di Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu.
Miniatur Lumbung/Dango: tempat penyimpanan padi setelah panen dan dikeringkan.
Gazebo: struktur pavilun berbentuk segi delapan, biasanya terdapat di taman dan kompleks makam Tionghoa.
Gedung Auditorium Museum, biasanya dijadikan lokasi pameran temporer. Arsitekturnya tampak memadukan rumah adat Dayak dan Melayu.
Miniatur Langkau Kopra: banyak terdapat di daerah Mempawah dan Sambas.
Di sebelai kiri, terdapat Surau yang atapnya menyerupai arsitektur Masjid/Surau di Jawa.
Di sebelah kanan, bangunan bekas toilet yang sudah tak terpakai.
Bangunan berciri khas rumah panggung. Sayang sekali hanya difungsikan sebagai kantor.
Rumah dengan arsitektur tradisional yang juga berfungsi sebagai kantor.
Miniatur Perahu Lancang Kuning: perahu kebesaran Kesultanan Pontianak yang digunakan oleh Sultan dan keluarganya pada acara resmi.
Rumah dengan arsitektur tradisional untuk kantor juga.
Lagi, rumah tradisional yang hanya difungsikan sebagai kantor.
Bangunan bekas kios suvenir, makanan, dan minuman.
Bangunan bekas toilet.
Tidak jelas ini bangunan untuk apa dulunya. Namun atapnya unik, menyerupai atap Rumah Joglo dari Jawa Timur.
Bangunan ini memadukan unsur modern dan tradisional. Rencananya dibangun untuk dijadikan kafe atau tempat makan. Namun entah kenapa tampak terbengkalai. Penampakan luarnya lumayan bagus, namun bagian dalamnya kosong.

Sebagai museum utama tingkat Provinsi Kalimantan Barat, ditambah satu-satunya museum di Pontianak, sangat disayangkan museum ini sepi pengunjung. Padahal museum ini memiliki potensi dan koleksi yang cukup mumpuni. Perlu ada inovasi baru untuk menarik minat pengunjung sehingga tidak bosan meskipun datang berkali-kali. Salah satu yang ada dalam benakku, alangkah baiknya jika pengembangan Museum ini dipadukan dengan Taman Budaya dan Rumah Adat Betang yang jarak satu sama lain cukup dekat.

Jumat, 08 Juli 2016

Museum Kalimantan Barat (1)

Museum Kalimantan Barat merupakan satu-satunya museum yang berada di Kota Pontianak, tepatnya di Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan. Museum ini tergolong ke dalam kategori museum etnografi karena mayoritas pamerannya bertema kebudayaan di Kalimantan Barat, terutama dari etnis Dayak dan Melayu, ditambah sedikit dari etnis Cina. Dayak, Melayu, dan Cina memang dikenal sebagai tiga etnis terbesar di Kalimantan Barat.

Pembangunan Museum Kalimantan Barat dirintis sejak tahun 1974 dan mulai dibuka untuk umum pada 4 Oktober 1983. Namun, baru diresmikan pada 2 April 1988 oleh Sekjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bambang Triantoro. Kini, pengelolaan museum dipegang oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Museum Kalimantan Barat memiliki dua ruang pamer, yakni pameran tertutup yang berada di dalam gedung utama museum dan pameran terbuka yang berada di halaman belakang museum. Adapun waktu dibukanya ruang pamer tertutup, antara lain:
  • Senin: Tutup;
  • Selasa–Kamis: buka pukul 08.00–14.30 WIB;
  • Jumat: buka pukul 08.00–11.00 WIB dan pada 13.00–14.30 WIB;
  • Sabtu, Minggu, dan hari libur: buka pukul 08.00–14.00 WIB.
Sedangkan tarif masuk ke ruang pamer tertutup, antara lain:
  • Pelajar (TK/SD/SMP/SMA/Mahasiswa): Rp2.000 per orang;
  • Umum (Warga Negara Indonesia): Rp3.000 per orang;
  • Warga Negara Asing atau Peneliti: Rp10.000 per orang.

Berikut ini beberapa foto Museum Kalimantan Barat yang kujepret pada 3 Juli 2016:

Museum Kalimantan Barat.
Relief Budaya Dayak.
Relief Budaya Melayu.
Patung Dayak dan Melayu. Tidak jelas apakah gestur patung ini bermaksud "Selamat Datang" atau "Selamat Jalan", Ada yang menyebut "selamat datang", namun letak patung ini berada di jalur keluar museum.
Prasasti Peresmian Museum Kalimantan Barat oleh Bambang Triantoro, Sekjen Depdikbud RI.
Ruang Pengenalan: koleksi arkeologi masa paleolitik, mesolitik, dan neolitik.
Ruang Pengenalan: koleksi arkeologi masa megalitik dan perundagian.
Ruang Pengenalan: koleksi heraldika, numismatika, dan historika.
Ruang Budaya Kalimantan Barat.
Perkawinan Suku Bangsa Dayak Taman.
Ruang Budaya: koleksi kebudayaan Dayak.
Ruang Budaya: koleksi kebudayaan Melayu
Pengantin Melayu Pontianak.
Ruang Budaya: koleksi kebudayaan Cina.
Ruang Keramik

Terdapat beberapa kekurangan yang kucaat. Pertama, mungkin karena sepinya pengunjung, museum ini terasa seram, terutama jika hanya sendirian berkunjung. Menurutku, mungkin ada baiknya jika pencahayaan museum ditambah dan ditambahkan musik yang lembut dan tenang agar pengunjung lebih menikmati.

Kekurangan lainnya ada pada penyejuk udaranya. Meskipun sudah cukup sejuk, namun tidak begitu merata. Ada beberapa sudut yang udaranya terasa agak hangat. Aku tidak tahu apakah karena jumlah penyejuk udaranya kurang atau memang disengaja untuk penghematan energi.

Kekurangan yang agak fatal menurutku adalah kesalahan terjemahan Bahasa Inggris pada papan keterangannya. Banyak kutemukan kesalahan penggunaan kosakata Bahasa Inggris yang mungkin bisa ditertawakan wisatawan asing yang berkunjung.

Namun, secara umum, dibandingkan kunjunganku dulu yang entah berapa tahun yang lalu, kondisi museum satu-satunya di Pontianak ini sudah jauh lebih baik. Koleksi-koleksinya tertata dengan baik dan rapi. Ruangan dalam museum juga sudah dilengkapi penyejuk udara, sehingga tidak lagi hangat. Pencahayaannya pun sudah jauh lebih baik, tidak lagi gelap. Museum Kalimantan Barat kini sudah jauh lebih visitor-friendly (bersahabat bagi pengunjung), sangat cocok bagi wisatawan yang ingin mengetahui kebudayaan etnis di Kalbar secara singkat dan cepat.