Minggu, 01 November 2015

Galeri Kota Pontianak (Oktober 2015)

Berikut ini adalah foto-foto yang kujepret pada bulan Oktober 2015, yang belum pernah kubagi di laman-laman sebelumnya di blog ini.

Indomaret "Ayani Mega Mall", Jl. Perdana, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (3 Oktober 2015)

Renovasi Kantor Walikota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Rahadi Usman, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)
Air Mancur di Kompleks Balai Kota Pontianak, Jl. Zainuddin, Kel. Tengah, Kec. Pontianak Kota (9 Oktober 2015)

Persimpangan Jl. Gajah Mada, Jl. Pahlawan, dan Jl. Budi Karya, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (10 Oktober 2015)
Jl. Hasanudin dan Sungai Jawi, Kel. Sungai Jawi Dalam, Kec. Pontianak Barat (10 Oktober 2015)
Megamal Ayani, Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (18 Oktober 2015)
Kondisi kabut asap di Jl. Gajah Mada, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (22 Oktober 2015)
Sambutan Bapak Wakil Walikota Pontianak Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, M.M., M.T. pada sela-sela Car Free Day di Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Car Free Day, Jl. Jend. A. Yani, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Hiasan di persimpangan Jl. Jend. A. Yani dengan Jl. Letjend. Sutoyo, Kel. Parit Tokaya, Kec. Pontianak Selatan (25 Oktober 2015)
Jl. Tanjungpura, Kel. Benua Melayu Darat, Kec. Pontianak Selatan (30 Oktober 2015)
Kurangnya lahan parkir menyebabkan sepeda motor "menjajah" trotoar di Parit Besar di Jl. Diponegoro, Kel. Darat Sekip, Kec. Pontianak Kota (30 Oktober 2015)

Selasa, 27 Oktober 2015

Arak-arakan Pengantin Melayu Pontianak

Pada 25 Oktober 2015, masih dalam rangka HUT Kota Pontianak 2015, Pemkot Pontianak mengadakan acara Arak-arakan Pengantin Melayu yang kemudian diikuti dengan nikah massal bagi warga yang kurang mampu. Jadwal arak-arakan ini mengalami sedikit perubahan dari jadwal semua. Arak-arakan yang rencananya dimulai dari Megamal Ayani berubah sehingga dimulai dari Museum Kalimantan Barat. Begitupun waktunya yang semua dijadwal mulai pukul 07.00, molor 1 jam sehingga baru dilepas secara resmi oleh Walikota Pontianak H. Sutarmidji, S.H., M.Hum. pada pukul 08.05 WIB. Arak-arakan ini mengambil rute di Jl. Jend. A. Yani, dari Museum Kalimantan Barat hingga Masjid Raya Mujahidin. Karena berbarengan dengan jadwal Car Free Day, banyak masyarakat yang menghentikan sejenak kegiatan olahraganya dan antusias menonton arak-arakan ini. Arak-arakan ini berlangsung dengan lancar dan cukup meriah meskipun kabut asap kembali menebal pada pagi itu. Berikut ini foto-foto yang sempat kujepret seputar Arak-arakan Pengantin Melayu.

Tampak Walikota Sutarmidji dan Ibu Lismaryani beserta Bapak Sekda Mochamad Akip turut berpartisipasi










Festival Drum Band & Fashion Road 2015

Sebagai salah satu acara rangkaian peringatan HUT Kota Pontianak ke-244, diselenggarakan Festival Drum Band & Fashion Road di Jl. Gajah Mada pada 24 Oktober 2015. Pawai ini bisa dibilang berlangsung meriah dan cukup menghibur warga sekitar.



Di balik kemeriahan itu, sebenarnya terdapat beberapa kekurangan yang menurutku bisa diperbaiki agar ke depannya bisa lebih baik lagi.

Pertama, jarak antar kelompok peserta menurutku terlalu jauh dan lama. Setiap satu kelompok lewat, kita harus menunggu kurang lebih 5 menit hingga kelompok berikutnya lewat lagi. Hal ini menyebabkan para penonton kebosanan menunggu serta menjadikan durasi pawai berlangsung cukup lama, dari pagi hingga petang. Seharusnya jarak antar kelompok diatur agar penonton dapat menyaksikan iring-iringan pawai tanpa jeda hingga selesai.

Kedua, pengaturan lalu lintas kendaraan juga lebih baik jika diperketat lagi. Meskipun dilalui pawai, masih terlihat banyak kendaraan, baik roda dua maupun empat yang masuk ke jalan. Bahkan banyak kendaraan, terutama roda dua, yang mencoba mendahului iring-iringan pawai. Hal ini selain dapat membahayakan para peserta pawai, juga membahayakan warga sekitar yang menonton. Seharusnya sepanjang Jl. Gajah Mada yang dilalui pawai benar-benar disterilkan dan setiap kendaraan dialihkan jalurnya.

Ketiga, pawai ini sepertinya kurang promosi mengingat jumlah masyakarakat yang menonton tergolong lebih rendah, terutama jika dibandingkan Karnaval Khatulistiwa pada Agustus kemarin atau dengan Arak-arakan Naga Cap Go Meh pada Maret lalu. Atau mungkin masyarakat agak jenuh dengan pawai karena belum genap dua minggu yang lalu, juga diselenggarakan Pawai Akbar memperingati Tahun Baru Hijriah.

Keempat, ini hanya pendapatku pribadi. Di hari yang sama, di Istana Kadriah, digelar acara penobatan Putra Mahkota Kesultanan Pontianak serta pemberian gelar-gelar kebangsawanan. Meniru iring-iringan keluarga kerajaan di Inggris atau Belanda, mungkin akan menarik seandainya jika terdapat iring-iringan kerabat Kesultanan yang dipadukan dengan Festival Drum Band & Fashion Road ini. Hal ini selain dapat menunjukkan eksistensi Kesultanan Pontianak, juga agar masyarakat lebih mengenal Kesultanan sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan Pontianak.

Kelima adalah masih kurang disiplinnya warga Kota Pontianak, baik dari para peserta pawai, penjaja makanan/minuman tepi jalan, hingga masyarakat yang menonton. Pada sore hari, setelah pawai usai, tampak sampah yang berserakan di Jl. Gajah Mada. Bahkan ada pot tanaman yang rusak. Berikut ini foto kondisi jalan setelah pawai usai.


Semoga ke depannya, pawai seperti ini lebih dipromosikan dan lebih ditingkatkan lagi kualitasnya serta fasilitas umumnya agar semakin menarik wisatawan untuk berwisata di Kota Pontianak, Kota Khatulistiwa.