Selasa, 17 Februari 2015

Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak (2)

Sultan Syarif Abubakar Alkadrie

Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie

Sengketa takhta Kesultanan Pontianak yang bermula pada Oktober 2014 lalu semakin menghangat dengan terjadinya beberapa insiden menjelang akan digelarnya penobatan Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie yang dijadwalkan pada 8 Februari 2015. Herannya, insiden yang menurutku bukan peristiwa kecil ini tidak menarik minat dua surat kabar nomor satu dan terbesar di Kalbar untuk memberitakannya. Berikut adalah rangkuman yang kudapat setelah mencari berbagai sumber di Internet.

Pada 26 Januari 2015 malam hari, ketika Sultan Syarif Abubakar Alkadrie besera keluarganya sedang bersantai di teras Istana Kadriah, tiba-tiba datang Sultan Toto Thaha beserta rombongan yang langsung masuk ke ruang singgasana dan mengadakan rapat di situ. Kedua Sultan tidak saling bertegur sapa satu sama lain. Usai Sultan Toto Thaha meninggalkan istana, tiba-tiba muncul orang yang menghalangi Sultan Abubakar untuk masuk ke dalam Istana dan terjadilah aksi saling dorong. Di saat bersamaan, datang puluhan orang menuju teras istana. Ada di antara sekelompok orang tersebut yang terlihat membawa senjata tajam. Sultan Abubakar pun akhirnya berhasil diamankan ke dalam kamar istana, sementara keluarganya berjaga-jaga di teras istana untuk mencegah puluhan orang tersebut masuk. Tak berselang lama, datang aparat kepolisian yang dipimpin Kapolsek Pontianak Timur dan berhasil mengamankan situasi.

Insiden di Teras Istana Kadriah pada 26 Januari 2015
Di malam yang sama, ternyata pihak Sultan Toto Thaha telah melaporkan Sultan Abubakar ke kepolisian dengan tuduhan perusakan dan pengeroyokan. Menjawab tuduhan itu, pada 29 Januari 2015, Sultan Abubakar secara resmi menyerahkan Istana Kadriah kepada Polresta Pontianak untuk digaris polisi (di-status quo) untuk mempemudah polisi melakukan penyidikan. Namun Kapolresta Pontianak menolaknya karena bukan kewenangan kepolisian, kecuali jika ada tindak pidana. Kapolresta Pontianak juga menyatakan tidak akan turut campur dalam urusan internal kerajaan, namun bersedia memediasi jika diminta.

Sultan Abubakar di Teras Istana Kadriah
Pada 6 Februari 2015 sore hari, ketika Sultan Toto Thaha dan panitia sedang mengerjakan persiapan acara penobatannya di Istana Kadriah, Sultan Abubakar beserta keluarga dan pendukungnya berkirab menuju Istana, lengkap dengan pakaian, bendera, payung, dan senjata adat simbol kerajaan. Ketibaan Sultan Abubakar di Istana nyaris memicu bentrok, namun berhasil dicegah oleh pasukan kepolisian yang berjaga-jaga. Melihat situasi tersebut, Sultan Toto Thaha berniat mendekati Sultan Abubakar, namun dihalangi oleh pihak keluarga agar situasi tidak semakin memanas. Dengan fasilitasi dari kepolisian, situasi kembali kondusif setelah kedua belah pihak sepakat untuk bermediasi pada esok hari.


Aparat Kepolisian Mengamankan Istana Kadriah
Esoknya, upaya mediasi antar kedua belah pihak di Polresta Pontianak tidak mencapai kesepakatan. Setelah mediasi gagal, Sultan Abubakar kembali berkirab menuju Istana Kadriah. Setibanya di Istana, terjadilah bentrokan fisik di halaman istana antar pendukung kedua Sultan. Polisi pun melakukan tembakan peringatan dan membubarkan bentrok tersebut.

Pengukuhan Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke-X
Akibat beberapa insiden tersebut, pada 8 Februari 2015, pihak Sultan Toto Thaha memutuskan menunda acara penobatan Sultan hingga waktu yang belum ditentukan. Di hari yang sama juga, pada dini hari, bertempat di Hotel Kartika, Pontianak Kota, Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie dikukuhkan sebagai Sultan Pontianak yang ke-X. Pengukuhan tersebut dibacakan oleh duta khusus Sultan Banjar Sekawan Borneo, anggota Dewan Mahkota, dan dihadiri beberapa utusan dari kerajaan lain.

Sumber berita:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar