Rabu, 26 November 2014

Klaim Ganda Takhta Sultan Pontianak

Ternyata tidak hanya di Palembang, Surakarta, dan Ternate. Di Kesultanan Pontianak pun kini menghadapi klaim ganda pewaris takhta kesultanan. Selain membingungkan warga Pontianak, klaim ganda ini juga membelah Dinasti Alkadrie, dinasti yang telah memimpin Kesultanan Pontianak sejak 1771, sekaligus juga mengundang keprihatian dari para pecinta dan pemerhati Kesultanan Pontianak.

Sultan Toto Thaha
Sultan Syarif Toto Thaha ibnu Almarhum Sultan Syarif Thaha Alkadrie
Sultan Pontianak ke-X
Klaim ganda ini dimulai pada 31 Oktober 2014, ketika Syarif Toto Thaha Alkadrie diumumkan sebagai Sultan ke-X. Lima hari kemudian, pada 5 November 2014, Sultan Toto Thaha memperkenalkan dirinya sebagai Sultan dengan berjalan kaki menuju Istana Kadriah dengan atribut Kesultanan. Upacara penobatan pun direncanakan akan dilangsungkan dalam waktu dekat dengan mengundang seluruh Raja/Sultan se-Kalbar dan anggota Forum Kesultanan Nusantara.

H. Sy. Toto Thaha Alkadrie, S.Sos. lahir di Pontianak pada 29 Agustus 1952 pada Pemilu 2014 lalu pernah menjadi calon anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Partai Demokrat untuk dapil Kalbar 1 (Kota Pontianak). Ia memperoleh 2.063 suara, namun tidak terpilih. Berdasarkan daftar riwayat hidupnya, ia adalah Ketua Majelis Musyawarah Istana Kadriah sejak 1999 dan Ketua Pemangku Adat Majelis Adat Budaya Melayu Kota Pontianak sejak 2002. Ia juga pernah menjadi Anggota DPRD Kota Pontianak dari tahun 1992 hingga 1999.

Sultan Toto Thaha merupakan putra dari Sultan Thaha Alkadrie. Dari garis ibunya yang bernama Ratu Anom Negara Syarifah Fatimah Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cucu dari Sultan Mohamad. Dari garis ayahnya yang bernama Syarif Usman Alkadrie, Sultan Thaha merupakan cicit dari Sultan Yusuf (sultan ke-V) dari anak lelakinya yang bernama Syarif Machmud Alkadrie. Hingga kini, kedudukan Sultan Thaha sebagai sultan atau bukan masih diperdebatkan.

Pada 13 November 2011, Sultan Toto Thaha mendapat dukungan dari Dewan Nasional Angkatan 45 Republik Indonesia serta dari Forum Komunikasi Pemuda Melayu Kota Pontianak. Acara yang berlangsung di Istana Kadriah itu dihadiri pula oleh mantan Walikota Pontianak Buchary Abdurrahman.

Sultan Abubakar

Sultan Syarif Abubakar ibnu Almarhum Syarif Mahmud ibnu Almarhum Sultan Syarif Mohamad Alkadrie
Sultan Pontianak ke-VIII
Menghadapi klaim itu, pihak Sultan Abubakar tinggal diam. Pada 6 November 2014, Yayasan Sultan Hamid II secara terbuka menyatakan tetap mengakui Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan ke-VIII. Pada 18 November 2014, Sultan Abubakar menyatakan bahwa dirinya tetap bertakhta sebagai Sultan ke-VIII, yang secara tidak langsung menolak klaim Sultan Syarif Toto Thaha Alkadrie. Di hari yang sama, Baginda Sultan juga mengeluarkan titah yang berbunyi sebagai berikut:
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Saya yang berada di atas Takhta Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abubakar Alkadrie bin Syarif Mahmud Alkadrie bin Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Sultan Kadriah Pontianak ke-VIII menyerukan dan menyampaikan titah:
Atas asma Allah Subhanallah wa Ta'ala dan Muhammad Rasulullah Shallahualaihi Wa Sallam, kepada seluruh keluarga besar Alkadrie yang berada di dalam wilayah Kota Pontianak dan sekitarnya maupun di perantauan, seluruh pecinta dan pemerhati Kesultanan Kadriah Pontianak, marilah kita berpikir jernih, bermusyawarah dan bermufakat menyandarkan segala pemikiran kepada Alquran dan sunnah; merapatkan barisan dan berjabatan tangan di dalam tali ikatan ukhuwah yang penuh dengan semangat kebersamaaan, perdamaian, kasih sayang, dan kekeluargaan; menegakkan dan tunduk pada hukum syariat sebenar-benarnya dari dunia hingga ke akhiran. Alhamdulillah Rabbilalamin.
Syarif Abubakar Alkadrie, lahir di Pontianak pada tanggal 26 Juli 1944, dinobatkan sebagai Sultan Pontianak ke-VIII setelah hampir 26 tahun, takhta Pontianak kosong setelah kemangkatan Sultan Hamid II pada tahun 1978. Baginda dinobatkan sebagai Sultan pada Januari 2004, setelah sebelumnya mendapat restu dari Ratu Perbu Wijaya Syarifah Khadijah Alkadrie, putri dari Sultan Mohamad, yang pada saat itu merupakan anggota keluarga Alkadrie yang tertua, yang berumur lebih dari 100 tahun.

Sultan Abubakar merupakan cucu dari Sultan Mohamad dari anak lelakinya, Pangeran Agung Syarif Mahmud Alkadrie. Syarif Mahmud sendiri adalah adik kandung dari Sultan Hamid II. Sultan Abubakar dinobatkan sebagai Sultan atas kesepakatan bersama antara para pewaris Sultan Mohamad dikarenakan keengganan putra dari Sultan Hamid II, yakni Syarif Yusuf alias Max Nico Alkadrie yang kini berkewarganegaraan Belanda untuk dinobatkan sebagai Sultan Pontianak.

Dasar Klaim

Silsilah Sultan Pontianak

Bagi pihak Sultan Toto Thaha, pengangkatan sultan baru didasarkan atas beberapa hal. Pertama, pada rapat besar Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) pada 29 Agustus 1945 yang mengangkat Syarif Thaha Alkadrie sebagai Sultan ke-VII, menggantikan Sultan Mohamad yang wafat dibunuh tentara Jepang. Dua bulan kemudian, Sultan Thaha kemudian secara sukarela berundur dan menyerahkan takhta kepada Sultan Hamid II sebagai Sultan ke-VIII.

Dasar berikutnya adalah Surat Keputusan Bertiga tertanggal 10 Desember 2002 yang menetapkan Syarif Abubakar Alkadrie sebagai Sultan Pontianak ke-IX yang bersifat sementara, untuk masa 3 tahun (2002–2005) sehingga sejak 10 Desember 2005, takhta Kesultanan Pontianak kembali kosong secara otomatis. Oleh karena itu, dianggap perlu untuk segera mengangkat sultan baru yang definitif. Akhirnya, Syarif Toto Thaha Alkadrie, putra dari Sultan Thaha akhirnya dianggap yang paling berhak menduduki takhta kesultanan sebagai Sultan ke-X.

Namun bagi pihak Sultan Abubakar, dialah pewaris yang sah sesuai Mahkamah Syariah Pontianak (sekarang bernama Pengadilan Agama) melalui Ketetapan Nomor 154/1971 dan Nomor 118 Tahun 1978, serta berdasar hukum Syariat Islam. Kemudian, Zichiryo Hyogikai (Dewan Kerajaan) yang menjadi dasar pesaingnya hanyalah bentukan tentara Jepang yang telah membantai banyak Keluarga Alkadrie. Dengan demikian, tidak ada Sultan Thaha sebagai Sultan ke-VII. Sultan Hamid II adalah Sultan ke-VII dan Sultan Abubakar adalah Sultan ke-VIII, bukan ke-IX. Baginda juga menambahkan, bahwa rapat keluarga besar yang mengangkat sultan baru itu tidak pernah ada. Penobatan dirinya sebagai Sultan pun telah berdasarkan atas kesepakatan bersama di antara para pewaris Sultan Mohamad, yang kemudian dikukuhkan dengan restu dari Ratu Anom Negara.

Pendapat Pribadi

Masing-masing pihak tentu memiliki argumen dan pembenarannya masing-masing. Menurutku pribadi sebagai warga jelata di Kota Pontianak, terlepas dari siapa Sultan yang sah dan siapa Sultan "penyusup", sengketa takhta kesultanan seharusnya tidak terjadi. Sebaiknya kedua pihak yang mengklaim sebagai Sultan itu saling bertemu untuk memusyawarahkannya. Sebagai seorang raja, sudah sepatutnya memberi contoh moral yang baik bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya. Jikalau perlu, semoga ada pihak ketiga yang bersedia memfasilitasi dan mempertemukan kedua belah pihak. Semoga sengketa takhta Kesultanan Pontianak ini segera berakhir dan tidak berlarut-larut.

Daulat Tuanku.

4 komentar:

  1. L.S.;

    Interesting to read this article.Please,allow me to react to itI doi not want to interfere in matters not of my concern and I not want to choose a side,but allow me to tell me what I know about the succesion in the royal family of Pontianak.
    Before I talked in Holland with Maharatu Mas Makhota;sultana of Sultan Syarif Muhammad Hamid II Alkadrie of Pontianak.Also with her family in Holland.I talked to Mr Boom;former Holland government official,who with Sultan Sy Hamid II regulated after WW II the succesion in the dynasties of West-Kalimantan,because all the kings there were murdured by Japan.About the succesion in the West Kalimantan kingdoms after WW II I also took the reports from the Holland archive.
    I can understand,that Pangeran Syarif Toto bin Sultan Syarif Thaha Alkadrie made a claim to the sultan title,but I hope my explanation will help a bit to restore the harmony.
    Sultan Sy Muhammad Alkadrie was executed by Japan because of so-called treason againast the Japan emperor 24-6-1944.With him his royals sons and many others.One of the sons killed was his crownprince.Pangeran Perdana Sy Mahmud;father of Sultan Sy Abubakar Alkadrie.The Japan government had miscalculated,that the Kalbar perople wouild accept the executions of their kings,etc. in 1944 because of so-called treason,so the atmosphere became very tense in Kalbar.The Japan government realised,that they made a mistake and tried to restore a bit the harmony in the area by f.i. installing in Pontianak a new sultan.Already by then they had found out,that one of the sons of the executed sultan was still alive and was in a military prisoncamp on Java.He was then asked to accept the throne of the sultanate.That was Syarif Hamid.But he not wanted to accept the hrpone.Also because he not wanted to serve a nation,that had killed many of his family.Then Japan not knew,what to do and then tried at least to install the oldest grandson of the executed sultan.That was the minor/young prince Syarif Thaha.By then only 18 years old.His mother was a royal daughter of Sultan Sy Muhammad and his father was Pangeran Anom Bendahara/Syarif Osman,who was the grandson of Sultan Sy Yusuf Alakadrie(ruled 1873-1895);being the father of Sultan Muhammad.Because the dynasty must by then also be still a bit afraid of Japoan,who murdured many of their family;they accepted.18-8-1945 Syarif Thaha was selected as new sultan of Pontianak and 29-8-1945 he was installed as sultan.But by then Japan already was losing the war.Shortly after 22-10-1945 Holland government came back to the area.Sultan Sy Thaha then went to the Holland officials to present his throne to them.But Holland then said,that he can not present something to which he had no right(he became sultan via the female line and mklre or loess the dyn asty was forced to accept the throne as a creation of Japan.Sorry I talk like this.So shortly after 22-10-1945 it was researched,who had the right to be the new sultan of Pontianak.One month and 2 days after his father Sy Achmnad;the crownprince of Pontianak;was executed 24-6-1944 his son Syarif Abubakar.the present sultan of Pontianak;was born 26-7-1944,so according to the adat he was the one to become the new sultan as oldest and only son of the executed crownprince.Then his uncle Sy Hamid was asked to rule for him.He accepted after a while and he would rule as regent only for the minor calon sultan Sy Abubakar.Because to be able to rule better in this troblesome time it was decided,that he would take the full sultan title and not the title wakil-sultan,or regent-sultan.Then Sultan Syarif Muhammad Hamid II Alkadrie was installed.Ex-sultan Sy Taha never had a problem at any time,that he was no sultan anymore.When Sultan Hamid II eased to rule as sultan in 1950,Syarif Abubakar was then only a boy of 6 years,And then not really there was a need to install a new sultan of Pontianak.Only since 1999 the cultural resurrection of the Indonesian dynasties began to take place and so later Syarif Abubakar was installed in 2003 as new sultan of Pontianak.

    BalasHapus
  2. Sy Yusuf/Max Alkadrie;only son of Sultan Hamid II,never wished to become the new sultan of Pontianak,because he knew,that his father was not the crownprince before and also was in fact only the regent sultan.Sultan Sy Abubakar and Syarif Yusuf have a good contact with each other and the latter fully accepts,that his cousin is now the present sultan of Pontianak.I hope,that God will give wisdom to the dynasty of Pontianak,so that ther harmnony within it can be restored. Thank you.

    Salam hormat:
    DP Tick gRMK(Donald)
    secr. Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
    Vlaardingen/Belanda.

    BalasHapus
  3. Thank you very much for your information. It helps me a lot to know more about the history of royalty in Pontianak. As citizen of Pontianak and subject to His Majesty, I hope the royal family will solve this dispute as soon as possible by peaceful mean.

    BalasHapus
  4. ternyata seperti itu sejarahnya, terimakasih mr. donald

    BalasHapus